Bidang Kaderisasi, Bidang Terbaik : Sebuah Catatan

0 komentar

Pleno 1 LDK yang berarkhir pada jumat 28 Januari 2011 memberikan sebuah penghargaan sebagai bidang terbaik kepada bidang kaderisasi. Penghargaan ini tentunya bagi bidang kaderisasi bukanlah sebuah hal yang dicita - citakan sebelumnya. Seolah ini membayar apa - apa yang telah kami usahakan sebelumnya dengan kesungguhan.

penghargaan tersebut tentu bukan hal yang secara tiba - tiba. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjadi bidang terbaik.
1. Membuat visi misi yang menggerakan dan harus merasa dimiliki semua anggota bidang.
perlu diketahui bahwa ilmu manajemen modern pada banyak organisasi maupun perusahaan menjadikan visi misi sebagi sebuah hal yang urgen. visi misi benar - benar ditentukan dengan sungguh - sungguh. visi misi inilah yang menggerakkan semua staf maupun pemimpin. visi misi inilah yang menuntun untuk memberikan kerja yang lebih sehingga membantu meenemukan tujuan yang ingin dicapai . sejak awal kami berusaha membuat visi misi yang saya rasa bisa menggerakkan banyak orang. salah satu misi kami
a. Bertekat menjadi Tim yang solid dan mampu bekerja efektif, efesien, dalam nuansa ukhuwah.
b. Menjadi bidang yang berkualitas, untuk mengembangkan organisasi berbasis kebutuhan da’wah.

misi inilah yang kami susun diawal sebelum menentukan proker secara bersama - sama menjadikan kami punya arah yang jelas untuk bergerak kemana.
2. Saling Memahami
secara pribadi saya khawatir ketika awal di bidang kaderisasi dengan tugas memimpin, dengan beberapa karakter yang saya miliki. namun saya bertekad untuk terbuka, memberitahukan bagaimana kepribadian saya dengan harapan bisa dipahami dan juga harapannya kemudian bisa memahami. Kami akui banyak orang hebat di kaderisasi terutama dengan ide - idenya sehingga membuat saya berusaha untuk memahaami, bahwa ide - ide saya tidaklah yang paling baik ada kelemahan juga begitupun temen - temen yang lain. sehingga saya berprinsip untuk menghargai ide dan pendapat masing - masing dan tidak merasa menang sendiri, otoriter.
3. Tumbuhkan kebersamaan
kebanyakan ikhwan bersikap egois terhadap sesuatu terlebih amanah ini. seolah setiap masalah adalah urusan kabid saja yang lain tidak punya urusan. saya menyadari hal ini adalah salah setelah korwat mengingatkan bahwa kaderisasi bukanlah milik antum, tapi milik bersama. dari sinilah kemudian kami berusaha agar setiap agenda bidang adalah agenda bersama, begitupun jika sukses adalah kesuksesan bersama, jika gagal adalah kegagalan bersama. ini bisa menjadi senjata yang ampuh bagi kami untuk terus bekerja meski menghadapi berbagai rintangan yang berat dan menyakitkan. kebersamaan yang kami bangun bukan hanya rapat semata namun lebih jauh dari itu. kami berberapa kali mengadakan agenda bersama bersilaturahmi ke anggota bidang kaderisasi yang kadang juga diselingi rapat. hal ini ternyata juga berefek semakin tumbuhnya rasa kekeluargaan. kami bisa merasakan bahwa kita satu keluarga.
4. Mencontohkan dan terus belajar
Mencontohkan lebih baik daripada hanya memerintahkan saja. bahkan Allah amat murka bagi orang yang mengatakan namun tidak melakukan, Not Action Talk Only. saya selalu berusaha datang awal dalam syuro - syuro dan juga berusaha menyiapkan bahan syuro agar syuro bisa berjalan efektif. selain itu terus belajar tentang banyak hal untuk menyelesaikan masalah yang kami hadapi di bidang kaderisasi, sebagimana slogan kami "Think globaly Act Localy" membuat saya pribadi untuk terus belajar dan juga mencontohkan. berteori dan praktek secara seimbang.
5. Berdo'a kepada Allah
sehebat apapun usaha kita tentu juga harus disertai doa. terlebih Aktivis dakwah kampus, kami menyakini kedekatan kepada Allah memberikan kami energi -energi yang tak pernah habis dalam menghadapi masalah. kami selalu berusaha membangun kedekatan kepada Allah dengan berbagai kondisi, baik syuro maupun lainnya.

semoga beberapa catatan diatas menjadikan kebermanfaatan bagi kita semua khususnya dalam menjadikan kerja bidang kita di LDK benar - benar terbaik yang selanjutnya bisa memberikan kontribusi positif bagi LDK.
katakan....!
amin....

Pendidikan Antipacaran

0 komentar

Da­ta sta­tis­tik da­ri Ya­yas­an Ka­kak me­nun­juk­kan bah­wa eks­ploi­ta­si sek­su­al ko­mer­si­al se­la­ma pe­rio­de Sep­tem­ber 2008-De­sem­ber 2009 ter­ja­di pa­da ka­um pe­rem­pu­an de­ngan fak­tor pen­do­rong ter­be­sar ada­lah ke­ke­ras­an oleh pa­car. Se­dang­kan pe­rio­de Ja­nua­ri-De­sem­ber 2010 se­ki­tar 67% fak­tor pen­do­rong eks­ploi­ta­si sek­su­al ko­mer­si­al di So­lo ada­lah ke­ke­ras­an oleh pa­car. Mes­ki meng­alami pe­nu­ru­nan se­ki­tar 19,2 per­sen pa­da 2010 ini tam­pak­nya ma­sih je­las di sa­na bah­wa pa­ca­ran men­ja­di hal yang cu­kup mem­ba­ha­ya­kan. Hal ini ha­rus men­da­pat per­ha­ti­an se­rius ji­ka eks­ploi­ta­si sek­su­al ti­dak se­ma­kin me­ra­ja­le­la.

Su­dah ada so­lu­si yang di­ta­war­kan de­ngan pen­di­dik­an seks yang ha­rap­an­nya men­ja­di be­kal pe­nge­ta­hu­an pa­ra sis­wa ten­tang seks. Me­mang di si­ni sis­wa bi­sa meng­hin­da­ri seks be­bas ta­pi jus­tru bi­sa mem­bu­ka pe­lu­ang ba­gi sis­wa un­tuk me­la­ku­kan seks de­ngan “aman” se­be­lum me­ni­kah. Di si­si lain, tak bi­sa di­pung­ki­ri per­kem­bang­an tek­no­lo­gi yang ba­nyak mem­be­ri dam­pak ne­ga­tif se­o­lah meng­aja­ri sis­wa un­tuk ber­pa­car­an yang akhir­nya ter­je­ru­mus da­lam free sex.

Di si­ni­lah pe­ran gu­ru aga­ma sa­ngat di­per­lu­kan. Is­lam sen­di­ri ti­dak mem­per­bo­leh­kan ber­pa­car­an apa­la­gi ber­zi­na se­bab zi­na ter­ma­suk do­sa be­sar yang bisa me­ru­sak na­sab (ke­tu­run­an). Tak ha­nya me­la­rang zi­na na­mun ju­ga me­la­rang men­de­kati zi­na (pa­ca­ran) se­bab da­ri si­ni­lah zi­na akan le­bih mu­dah ter­ja­di.

Per­lu di­buat ma­te­ri pe­la­jar­an khu­sus aga­ma yang mem­ba­has ten­tang pa­ca­ran dan ba­haya­nya ba­gi sis­wa. Gu­ru di­tun­tut mam­pu me­ngem­bang­kan ku­ri­ku­lum dan me­nye­suai­kan de­ngan kon­di­si ma­sya­ra­kat se­ka­rang ke­ti­ka pa­ca­ran men­ja­di hal bia­sa ba­gi re­ma­ja bah­kan mung­kin ji­ka ti­dak pa­ca­ran di­ang­gap ti­dak ga­ul. Di sam­ping itu, ba­nyak me­dia da­ri mu­lai te­le­vi­si, film hing­ga in­ter­net yang me­ngam­pa­nye­kan pa­ca­ran.

Pem­be­la­jar­an aga­ma pun ha­rap­an­nya bu­kan ha­nya trans­fer dok­trin tan­pa per­nah me­nying­gung kon­di­si nya­ta ling­kung­an ma­sya­ra­kat. Gu­ru ha­rus mam­pu men­je­las­kan bah­wa se­mua ma­nu­sia pa­da da­sar­nya mem­pu­nyai fit­rah un­tuk men­cin­tai, sa­lah sa­tu­nya ke­pa­da la­wan je­nis. Na­mun, bu­kan ber­ar­ti cin­ta ini di­um­bar se­jak di­ni. Gu­ru ju­ga per­lu be­ker­ja sa­ma de­ngan orang­tua sis­wa da­lam mem­per­bai­ki akh­lak sis­wa. Bi­sa ja­di, pe­nye­bab pa­ca­ran ka­re­na sis­wa ti­dak per­nah men­da­pat ka­sih sa­yang yang cu­kup da­ri orang­tua ka­re­na me­re­ka si­buk de­ngan urus­an­nya. Orang­tua me­ra­sa cu­kup mem­per­bai­ki akh­lak anak­nya ha­nya le­wat se­ko­lah oleh gu­ru.

Un­tuk men­je­las­kan ba­haya pa­ca­ran, gu­ru ti­dak cu­kup ha­nya men­ce­ri­ta­kan ten­tang ki­sah-ki­sah pa­ra pe­zi­na yang men­da­pat hu­kum­an. Da­ta LSM mau­pun ha­sil pe­ne­li­ti­an lain yang re­le­van ju­ga di­sam­pai­kan agar le­bih mu­dah di­te­ri­ma sis­wa.

Jadi konselor

Gu­ru per­lu me­ma­hami bah­wa ba­nyak sis­wa yang ber­pa­car­an bu­kan un­tuk me­la­ku­kan per­zi­na­an se­ma­ta. Bi­sa ja­di, pa­ra sis­wa ha­nya ter­pe­nga­ruh ling­kung­an se­hing­ga gu­ru ti­dak ha­rus lang­sung me­mak­sa pa­ra sis­wa un­tuk me­mu­tus­kan pe­ri­la­ku itu. Gu­ru ju­ga bi­sa ber­tin­dak se­ba­gai kon­se­lor un­tuk me­ne­ri­ma ke­luh­an mau­pun ma­sa­lah pa­ra sis­wa khu­sus­nya ber­pa­car­an.

Per­lu di­ingat bah­wa jam pe­la­jar­an aga­ma yang ha­nya dua jam se­pe­kan ti­dak­lah cu­kup un­tuk men­ja­ga akh­lak sis­wa. Mung­kin sis­wa di se­ko­lah ti­dak ber­pa­car­an na­mun ke­ti­ka di lu­ar se­ko­lah, ke­ada­an­nya ber­ubah se­ba­lik­nya.

Hu­kum­an bi­sa di­be­ri­kan ji­ka di­ke­ta­hui mu­rid me­mang me­la­ku­kan pe­lang­gar­an be­ru­pa hu­kum­an yang men­di­dik. Gu­ru ti­dak bo­leh ber­si­kap meng­ha­ki­mi da­lam me­nge­cek ke­be­nar­an la­por­an pe­ri­la­ku bu­ruk di lu­ar se­ko­lah na­mun te­tap meng­ede­pan­kan ka­sih sa­yang dan adil.

Ter­akhir, apa yang di­la­ku­kan oleh gu­ru ada­lah se­buah pro­ses, bu­kan ha­sil yang bi­sa lang­sung bi­sa ja­di. Ten­tu­nya gu­ru ha­rus me­nya­da­ri bah­wa pe­nga­ruh ling­kung­an yang be­gi­tu ku­at hing­ga men­ja­di­kan sis­wa mu­dah ber­pa­car­an me­nya­dar­kan gu­ru un­tuk te­rus be­la­jar me­ne­mu­kan ca­ra yang te­pat da­lam me­nyam­pai­kan ajar­an Is­lam ini.

Pa­da da­sar­nya ajar­an Is­lam ber­si­fat mo­de­rat dan mam­pu me­nye­suai­kan de­ngan kon­di­si za­man. Na­mun, ka­re­na ke­ma­las­an dan ke­ku­rang­kre­a­ti­fan gu­ru, men­ja­di­kan pen­di­dik­an aga­ma di se­ko­lah ku­rang ber­mak­na. Ji­ka gu­ru ti­dak mau me­la­ku­kan per­ubah­an, bi­sa di­pas­ti­kan la­ma-ke­la­ma­an akan ter­ja­di ke­ru­sak­an yang pa­rah pa­da ge­ne­ra­si mu­da. -

Oleh : Bu­di San­to­sa Ma­ha­sis­wa Ju­rus­an Tar­bi­yah Pro­di PAI STAIN Su­rak­ar­ta.
tulisan ini dimuat di SOLOPOS Edisi 14 Desember 2010

Bencana dan pendidikan penanggulangan Bencana

0 komentar

Letusan gunung Merapi yang telah menyebakan jatuhnya korban meninggal hingga ratusan dan juga masih menyisakan ribuan pengungsi dimana - mana. Di sisi lain negeri ini juga belum selesai mengurusi korban bencana Banjir di Wasior, kemudian juga Tsunami di Mentawai yang juga menyebabkan korban meninggal dunia maupun harus kehilangan tempat tinggal dan juga sanak saudara. Bencana alam baik Gempa, Tsunami, gunung meletus, banjir dan lainnya seakan sulit dihindari dan bisa datang dengan tiba – tiba .
Fakta – fakta terjadinya bencana dimana – mana dari tahun ketahun mulai dari Tsunami Aceh, hingga letusan gunung merapi yang masih ada sampai sekarang seolah menunjukan peningkatan jumlah terjadinya bencana. Wajar jika negeri ini disebut sebagai negeri yang rawan bencana. Jika kita lihat dari segi Geografis, posisi Indonesia memang berada pada posisi yang rawan bencana. Dimana terletak pada perpotongan 4 lempeng antara Asia Plate, Indonesia Ocean Plate, Australia Plate,dan Pacific Ocean Plate. Tidak salah jika kemudian sering terjadi gempa, bahkan Tsunami sebagaimana yang terjadi di Aceh.
Kepulauan Indonesia juga dilewati pegunungan berapi yang mengakibatkan banyak terdapat gunung berapi dan salah satunya gunung api teraktif di Dunia yaitu gunung Merapi yang telah terjadi proses Erupsi hingga sudah memakan korban ratusan jiwa dan menimbulkan ribuan pengungsi.
Kita tidak bisa mengelak jika bencana yang terjadi adalah juga akibat ulah tangan manusia itu sendiri yang mengakibatkan keadaan alam kita telah rusak parah. Hal inilah yang kemudian menjadikan mudahnya berbagai bencana alam banjir, tanah longsor yang kedatangannya tiba – tiba dan sulit dihindari.
Menurut Sunarto (solopos,6 november 2010) bencana alam maupun lainnya yang ada bisa menjadi laboratorium Pendidikan karakter bangsa, namun seharusnya juga menyadarkan kita untuk bisa sigap menanggapi bencana mengingat negeri kita adalah negeri yang rawan bencana dan bencana juga bisa datang tiba - tiba, kita perlu sebuah Pendidikan Penanggulangan Bencana. Pendidikan penanggulangan bencana inilah yang kemudian diharapkan bisa meminimalisir jatuhnya korban bencana sekaligus sebagai bentuk pencegahan jatuhnya banyak korban. Keberadaan pendidikan penanggulangan bencana ini dirasa memang sangat perlu sekali diadakan.
Lebih lanjut Hermana Somantrie menuliskan bahwa Pendidikan Penanggulangan bencana ini bertujuan agar memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik agar mampu melindungi diri terhadap bencana dan juga mampu memeberikan perlindungan kepada orang lain jika sewaktu – waktu bencana terjadi di kemudian hari.
Jika peserta didik kemudian memiliki kemampuan menyelamatkan dirinya dari bencana yang datang tiba – tiba di negeri ini tentulah korban yang berjatuhan akan lebih sedikit dibandingkan jika mereka samasekali tidak memeiliki pengetahuan samasekali.
Ada 3 model yang ditawarkan, yaitu: pertama, Pendidikan Kebencanaan melalui pengintegrasian program pembelajaran dengan pelajaran tertentu termasuk mata pelajaran muatan lokal. Implikasinya ialah kemudian menentukan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan juga diikuti pembuatan Rencana Program Pembelajaran. Perlu juga penentuan pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan untuk memperoleh pengalaman belajar tentang kebencanaan melalui penugasan.
Kedua, pendidikan kebencanaan melalui penyediaan bahan ajar yang berbentuk modul atau paket pembelajaran dan pedoman guru yang secara khusus membahas keunikan dari berbagai macam bencana tanpa terkait dengan mata pelajaran yang lain.
Model ini menuntut jam pelajaran khusus tentang penanggulangan bencana . selain jam pelajaran yang ada pada umumnya sekolah juga memeberikan jam pelajaran khusus dalam tiap minggunya melalui mata pelajaran ini. Diperlukan juga guru yang mampu mengantarkan materi penanggulangan bencana dengan baik.
Ketiga, pendidikan kebencanaan melalui simulasi, Demonstrasi atau Role Playing Model berbagai jenis kebencanaan yang dilakukan oleh sekolah secara periodik. Bisa satu kali dalam tiap semester dalam tiap tahunnya.
Proses pembelajarannya hampir mirip dengan simulasi bencana yang dilakukan dilingkungan sekolah secara bersama – sama. Model ini lebih hemat waktu sebab bisa dilakukan hanya beberapa kali dalam satu tahun tanpa harus membuat mata pelajaran khusus penanggulangan bencana.
Pendidikan penanggulangan bencana ini bisa dilaksanakan mulai tingkatan dasar hingga tingkatan menengah dengan menyesuaikan kurikulum masing – masing agarn semua masyarakat mempunyai pengetahuan yang memadai yang kemudian melahirkan sikap yang tepat dalam menghadapi bencana yang mungkin datang tiba – tiba.
Pendidikan penanggulangan bencana ini tidak akan berjalan maksimal jika masih banyak pihak yang terus menerus merusak dan mengekspoitasi alam lingkungan kehidupan tanpa peduli dampaknya. Sudah sepatutnya semua pihak memiliki kesadaran untuk melestarikan alam sehingga kemudian bencana bisa dicegah.

Merawat Tujuan Dakwah Kampus

0 komentar

Memahami tujuan dakwah kampus membutuhkan proses yang cukup panjang. Sebab memahami bukan hanya cukup mengetahui dari membaca tulisan atau mendengar tausiyah seseorang ustad, Terlebih tujuan dakwah kampus.
Tujuan utama dari Dakwah kampus adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Tujuan inilah yang seharusnya senantiasa kita pahami. Bukan hanya cukup diketahui saat kajian semata apalagi sampai kita tidak mengetahui sama sekali.
Mengapa? Kadang berbagai proses selama di kampus khususnya beramal diorganisasi dakwah dengan berbagai agenda. Banyak syuro, proker yang tidak berjalan, teman yang keluar dari organisasi membuat tujuan yang begitu penting ini kian luntur. Kita jadi lupa bahkan kehilangan tujuan dakwah kampus yang lebih urgen oleh persoalan kecil yang seolah besar, atau mungkin memang kita besar – besarkan.
Benar apa yang dikatakan oleh pembicara materi kaderisasi saat acara sekolah LDK beberapa bulan yang lalu di UNS. Bahwa: “keberhasilan sebuah LDK adalah diukur seberapa banyak alumninya yang masih mau berdakwah setelah lulus kuliah, bukan hanya dari proker yang dilaksanakan”. Buat apa kita sukses melaksanakan minimal 75 persen dari proker namun ternyata setelah lulus tidak ada yang mau berdakwah di masyarakat umum. Hal ini bukan berarti bahwa proker ataupun agenda di LDK tidak perlu. Justru selama dikampus menjadi kawah candradimuka bagi kita. Disanalah tempat kita untuk menggembleng segala potensi untuk mempersiapkan diri dengan menjalankan berbagai agenda dakwah kampus entah itu proker atau lainnya agar siap berdakwah di masyarakat. Bukankah keburukan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan, maka organisasi dakwah (LDK) menjadi kita butuhkan.
Merawat tujuan dakwah kampus menjadi amat penting. Sebab semakin hari nuansa kampus semakin berubah. Beribu masalah senantiasa ada. Berpuluh proker menanti untuk di laksanakan. Akankah kita senantiasa focus pada kelemahan kita, sehingga membuat lemah, membuat pesimis dalam organisasi dakwah kita. Akankah kita membiarkan persoalan kecil di bidang masing – masing membuat lupa akan tujuan utama bahkan menjadi alasan untuk meninggalkan dakwah yang mulia ini. Haruskah persoalan pribadi kita kadang menjadi penyebab kita mementingkan tujuan pribadi yang cenderung sementara dan kehilangan tujuan utama.
Sadar ataupun tidak hal – hal yang menyebabkan matinya, hilangnya tujuan utama akan senantiasa ada. Merawatnya tujuan utama dakwah kampus pada diri kita menjadi penting. Agar proses yang kita lakukan selama dikampus ini tidak sia – sia. Namun justru memberdayakan kita bukan melemahkan kita. Setiap persoalan sepelik apapun akan senantiasa membuat kita semakin yakin dan mantap dalam menampaki jalan dakwah ini. Setiap keberhasilan yang ada bisa jadi adalah ujian untuk diri kita terutama tentang tujuan utama apakah masih tertanam ataukah malah kita berganti tujuan lain yang salah. Mari kita nikmati segala kekurangan, segala masalah ini, segala aktivitas di LDK sebagai pemupuk semangat kita, penguat niat kita, sebagai sesuatu yang mampu merawat tujuan utama dakwah kampus hingga kita lulus dan mengantarkan dakwah di masyarakat. Selamat merawat tujuan dakwah kampus kita.

MUSYANG IX LDK STAIN Surakarta : Sebuah Refleksi

0 komentar


Aula SMA IT Nur Hidayah telah memilih menjadi fragmen menyejarah bagi bergulirnya roda kepemimpinan LDK STAIN ke depan. MUSYANG IX yang dimulai hari sabtu 29 mei 2010 pukul dua siang menjadi titik tonggak penting dalam perjalanan sejarah LDK itu sendiri.
MUSYANG IX sebagai bagian terpenting dalam LDK harus terkurangi nilainya. Seakan hal itu sebagai urusan sebagian anggota LDK semata. Sungguh memang apa yang dikatakan salah seorang peserta angkatan 2009 bisa menjadi kritik internal terkait sedikitnya peserta baik pengurus maupun anggota yang menghadiri.Banyak faktor memang yang menyebabkan kenapa MUSYANG IX menjadi berjalan kurang maksimal.
Faktor pertama, dalam sejarahnya setiap kali MUSYANG LDK ada kecenderungan yang menghadiri adalah sedikit orang saja, entah itu pengurus maupun anggota. Sebagimana tahun kemarin, yang dihadiri oleh pengurus yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Maka ini menjadi masalah tersendiri yang masih sulit untuk dipecahkan. Ibarat wis gawan bayi. Tapi tentu ada jalan untuk memperbaikinya.
Faktor kedua, terkait waktu untuk MUSYANG tahun ini sempat tertunda disebabkan tanggal yang dipilih sebelumnya bertepatan dengan KKL jurusan Tarbiyah yang mengharuskan banyak pengurus khususnya jurusan tarbiyah tidak bisa hadir. Akhirnya dipilih tanggal 29 -30 mei. Kita tahu jumat tanggal 28 adalah bertepatan hari libur, menimbukan rasa malas tersendiri untuk ke kampus terlebih sabtu juga cuti bersama. Selain itu dominasi mahasiswa STAIN adalah pulang ke rumah masing – masing. Tentu hal berat jika harus ke kampus hanya ikut MUSYANG apalagi bagi mereka yang belum punya kedsadaran baik terhadap LDK. Selain faktor tersebut, adalah kurang maksimalnya panitia dalam mengundang peserta terlebih pada level anggota . tidak semua mendpat undangan resmi, hanya sms. Maka akhirnya bisa kita dapati MUSYANG dihadiri sedikit peserta.
Kritik salah satu peserta MUSYANG kedepan harus benar – benar kita pikirkan, agar sejarah buruk ini tidak terulang lagi. Mungkin ada keinginan, ide berharga, pikiran membangun dari peserta yang tidak bisa hadir. Bukankah secara tidak langsung menzolimi hak mereka..
Secara proses MUSYANG IX bisa berjalan lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang menurut pengakuan pengurus sendiri cenderung formalitas belaka. Kita mengakui angkatan 2009 lebih baik daripada angkatan sebelumnya. Daya kritis mereka juga lumayan lebih baik, bahkan mampu memberikan penilaian yang objektif. Namun sayangnya rentang semangat, fisik, pikiran peserta semakin menurun jika MUSYANG semakin lama berjalan. Akhirnya pada pembagian akhir cenderung tidak objektif, karena sudah capek sekali. Kedepan panitia harus menyediakan waktu istirahat yang baik agar MUSYANG bisa berjalan dengan baik sampai akhir. Jangan hanya baik diawal namun rusak diakhir.
Setiap kali MUSYANG terutama evaluasi ketum. Nampaknya memiliki unsur yang tidak bisa dirubah. Pihak yang dievaluasi memiliki keinginan agar evaluasi diterima sedangkan pihak evaluator semaksimal mungkin melakukan evaluasi yang akhirnya memilih LPJ ditolak atau dikatakan tidak berhasil.
Hal seperti ini akan terus berlanjut sampai kapanpun. Terlebih jika pihak yang dievaluasi berkinginan LPJ diterima agar kedepan organisasi tersebut tercitrakan dengan baik. Semua sayangnya yang terpenting bukan LPJnya namun proses sebelum itu, kerja sesungguhnya. buat apa LPJ dibaik – baikan namun nyatanya selama kepengurusan ternyata buruk. Tanyakan kepada hati nurani.
VISI,MISI ketua Umum nampaknya tidak harus disampaikan pada saat itu juga, sebab membuat visi misi bukanlah hal yang instan satu jam jadi. Tentu butuh pemikiran lebih lanjut, lebih mendalam dengan analisis yang baik. Jika harus disampaikan saat itu juga semua yang bisa masuk calon hendaknya disuruh mempersiapkan jauh – jauh hari, entah mereka mau menjadi ketua maupun tidak manjadi ketua.
Semua tidak ingin kedepan MUSYANG masih berjalan seperti itu – itu saja, Formalitas semata. Bisa jadi inilah penyebab kenapa LDK susah diajak sungguh – sungguh karena kita memulai dari awal yang tidak sungguh – sungguh. Wallahu a’lam

Logika Perubahan : Antara Logika Politik dan Logika Perbaikan

0 komentar

Dalam sebuah acara FKK LDK se Solo Raya yang bertempat di kampus UNS seorang pembicara mengingatkan tentang bercermin...
sebenarnya kita selama ini bercermin dengan cermin apa??
sebenarnya keberadaan kita dikampusn ini kita cermini dengan cermin apa?
pembicara mengingatkan bahwa kadang kita bercermin dengan cermin cembung maka kita kemudian nampak begitu besar bayangannya padahal aslinya belum tentu. mungkin juga kita kadang bercermin dengan cermin cekung sehingga kita nampak kecil padahal belum tentu, ketika bercermin dengan cermin cembung maka kesombongan yang akan menghiasi. sedang ketika kita bercermin dengan cermin cekung maka sikap rendah diri, pesimis akan mengikuti...
lalu dengan cermin apa?
ada juga yang bercermin dengan cermin datar. maka kanan menjadi kiri, MUNAFIK..
harus dengan cermin apa??
terakhir pembicara menyarankan kita bercermin dengan hati nurani kita. tanyakan kepada hati kita maka disanalah keadaan sebenarnya bisa kita dapati...
begitupula untuk keberadaan kita dikampus selama ini, jangan - jangan kita selama ini salah bercermin... terlalu sering memakai cermin cembung, seolah kita begitu hebat, begitu besar padahal belum ada apa - apanya.. masih banyak yang belum tergarap.
beitupun ketika membahas acara kemarin malam di SMAIT, begitu hebatnya kita berencana, berpolitik, hanya logika politik yang bisa memenangkan pemilu tapi kita tidak bercermin terlebih dahulu,kita tidak melakukan evaluasi terlebih dahulu, atau malah kita sudah terpesona dengan bayangan kita pada cermin cembung...
sehingga untuk pemenangan pemilu hanya mengedepankan logika politik semata tanpa mengedepankan logika perbaikan.
lalu apa bedanya dengan yang lain...
bisa jadi kemenangan kita selama ini memang belum bisa memberikan perbaikan sehingga sudah seharusnya kita diganti. daripada tetap ngotot memenangkan namun mengabaikan logika perbaikan
seharusnya logika perbaikan adalah yang uatama, disanalah niat tulus untuk memperbaiki kampus harus dihadirkan, disanalah kerja cerdas untuk memperbaiki STAIN dilakukan. siapapun akan lebih mudah disentuh hatinya dengan kebaikan...
sehingga kita tidak perlu memikirkan rekayasa politik agar menang.
tulisan ini bukan dibuat untuk mengacau kesatuan namun berharap menjadi kritik bersama agar kita membangun kesadaran bercermin dengan cermin hati sehingga kita tahu kondisi kita sebenarnya. ambisi kita untuk menang tentu akan lebih baik jika diganti dengan ambisi memperbaiki, belajar dari kesalahan, kekurangan dan kemudian kita bisa menguasai sepenuh hati. bukan hanya memenangkan semata..
semoga...
Wallahua'lam bisshawab

Melawan Status Quo Dakwah Kampus

0 komentar

Mendengar kata status quo mungkin terdengar masih asing. bahkan saya sendiri belum tahu maknanya secara tepat seperti dalam kamus. setidaknya saya pernah membaca pad sebuah file pdf. status quo ialah melakukan sesuatu hal yang lama dengan cara lama dan untuk hasil yang baru.
banyak orang yang tidak suka status status quo, termasuk Mantan Ketua LDK SALAM UI yang kemudian di tiru oleh bebapa LDK dikampus lain.
status quo menolak prinsip hayawi atau dinamis yang ada pada dakwah. dakwah tidak boleh bersifat Monoton (sarana) hanya isinya yang harus tetap sesuai quran dan sunnah. bagitu pula model dalam LDK kita.
tapi apakah kita melakukan status quo???
pertanyaan ini silahkan tanyakan pada diri antum wa antumna, benarkah LDK masih menerapkan Status Quo. kita masih memakai model lama, untuk hasil yang baru. kita memasukan semua anggota untuk menjadi pengurus namun kita tidak ingin nanti banyak yang aktif.
saya tidak ingin menjustifikasi jika kita masih melakukan status quo, namun ingin bersama mengevaluasi untuk yang lebih baik agar LDK tetap dinamis. setidaknya apa yang dilakukan oleh Ketua LDK SALAM UI, yang memberi hasil begitu baik bagi LDKnya adalah pelajaran penting yang bisa kita ambil.
satu kata lawan ststus quo Dakwah Kampus.
hehehe

Keunikan LDK PTAIN

0 komentar

SEBENARNYA apa perbedaan antara LDK di kampus umum semisal UNS, UI dengan LDK pada PTAIN khususnya di STAIN Surakarta?. Tak banyak mungkin yang memikirkan kesana,samapai sekarang saya juga masih memikirkan seperti apa sih bedanya. sebab saya lihat sampai sekarang kita banyak mengadopsi model dari kampus lain yang umum tanpa melakukan penyesuaian.
Ibarat mencari jati diri maka hal ini layaknya perlu dipikirkan bersama. agar kita tahu dan mempunyai jatidiri kita sebagi LDK pada kampus berlabel PTAI. sebab inilah yang akan menentukan keunikan LDK kita.
Yusuf menulis dalam buku barunya yang berjudul "analisis instan problematika dakwah kampus" tentang strategi dakwah kampus di perguruan tinggi khusus. dia menyebutkan ada sekitar 8 jenis kekhasan perguruan tinggi. salah satunya PTAIN, dia mencontohkan LDK pada PTAIN bisa jadi tidak ada manfaatnya sebab banyak mahasiswa sudah paham Islam maka diperlukan pola khusus dimana LDK menjadi pusat Inkubasi pemikiran Islam, barulah banyak mahasiswa yang mengikuti karena disana mereka bisa belajar agama lebih advance. selain itu mungkin kader LDK harus paham beberapa kitab - kitab Islam, memiliki hafalan beberapa juz.
jika dilihat pada konteks prakteknya khususnya di STAIN Surakarta nampaknya ada yang kurang tepat. sebab input mahasiswa tanpa seleksi artinya pemahaman islamnya beragam dan tidak membuka kemungkinan justru pemahaman buruk. kedua kondisi perilaku mahasiswa ternyata meski di PTAIN namun juah dari perilaku Islami. dua hal inilah nampaknya yang menjadikan LDK tetap laku meski mengadopsi model kampus Umum.
namun wacana kedepan jika STAIN benar - benar menjadi IAIN bisa jadi input mahasiswa benar - benar memiliki pemahaman yang baik sebab mereka telah diseleksi.bisa jadi LDK tidak laku, perlu konsep baru yang relevan agar LDK tetap dinamis, eksis meski manjadi IAIN kecuali jika pihak kampus masih saja berorientasi pada kuantitas bukan kualitas.
yusuf menawarkan strategi membangun model LDK pada kampus berciri Khusus termasuk PTAIN.
1. kenali medan kampus
yakni mengenali kekhasan kampus
2. menemukan Potensi pendekatan Potensi dakawah.
3. menentukan profil kader yang dibutuhkan
4. tidak mengikuti pola dakwah pada umumnya
5. trial and erorr
(lebih lengkap bisa baca bukunya)
perubahan itu pasti maka kita harus siap menghadapi perubahan itu. setidaknya usulan pleno II dari bidang syiar untuk juga mengkaji kita nampaknya sesuai untuk menuju kearah sana. menuju keunikan model LDK kita. agar LDK tetap eksis, laku dan diminati mahasiswa.
siap berubah?????

Politik Kampus 2010

0 komentar


melihat munculnya partai- partai baru menjelang pemilu raya mahasiswa 2010 mirip dengan keadaan masyarakat indonesia. sukanya buat partai meski tidak jelas partai tersebut mau mewadahi kebutuhan mahasiswa yang mana..
mungkin ini strategi mengacau suara agar partai lama berkurang jumlah suaranya ataukah memang muncul kesadaran baru membangun kampus menuju lebih baik.

nampaknya perlu menunggu bukti pada pemilu besok. walaupun pengalaman kemarin masihkah harus terulang, ternyata kita lebih siap menang daripada siap kalah. hanya demi memenangkan presiden BEM penghitungan sampai beberapa hari, bahkan ketika sempat terjadi penggelembungan suara ada yang sudah bersiap - siap mau menggagalkan pemilu, dengan membawa bensin untuk membakar kertas suara. kita lebih siap menang daripada siap kalah. bagaimana jika besok banyak partai? semoga saja tidak banyak masalah..
terlebih dalam pemilukada solo mungkin bisa menjadi contoh. meski tanpa berbagai kekerasan akhirnya dapat ditentukan siapa pemenangnya..
semoga..

PENDIDIKAN YANG MEMBUDAYAKAN

0 komentar

PENDIDIKAN YANG MEMBUDAYAKAN

Beberapa hari terakhir ini di berbagai daerah di Indonesia sekolah – sekolah melaksanakan UAN tingkat SMA. Nampaknya bukan hal aneh jika tiba – tiba didapati banyak kasus kecurangan yang memang masalah klasik pendidikan kita yang tak kunjung selesai. Lalu muncul pertanyaan dalam hati saya: “ sudah separah itukah budaya pendidikan kita?, bagaimana nasib kebudayaan nasional kita jika pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai motor ternyata bermasalah sendiri?.
H. A. R. Tilaar, salah satu orang yang peduli terhadap pendidikan dan kebudayaan telah menulis dalam bukunya bahwa sejak orde baru pendidikan kita telah memisahkan antara kebudayaan dan pendidikan yang terbukti adanya pemisahan antara departemen kebudayaan dan pariwisata dengan departemen pendidikan nasional. Dalam materi pembelajaran nilai – nilai budaya sering dibatasi pada nilai intelektual semata. Selain itu demi kepentingan pertumbuhan nasional dan ekonomi yang menguntungkan pengusaha. Budaya kekuasaan dan budaya egoisme sekelompok kecil masyarakat telah menggantikan nilai – nilai universal dari budaya yang hidup dalam masyarakat dan bangsa indonesia. Kebebasan individu di pasung dan tujuan pendidikan cenderung intelektualistis dan di atur oleh UAN. Aspek pembentuk kepribadian yang lengkap meliputi konatif, afektif dan motorik telah diabaikan. Sayangnya berbagai hal tersebut terus berlanjut sampai sekarang.
Kata “kebudayaan” sampai sekarang lebih dibatasi pada hal – hal yang berkenaan dengan kesenian, tarian tradisonal, bangunan kuno, candi, dan sastra tradisional. Sebagaimana telah disebutkan bahwa dalam pendidikan kita nilai – nilai kebudayaan dibatasi pada nilai intelektual semata.
Kebudayaan menurut koentjaraningrat mengandung unsur sebagai berikut : sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan. Dengan memisahkan pendidikan dari kebudayaan merupakan suatu kebijakan yang merusak perkembangan kebudayaan sendiri.
Pendidikan adalah pembudayaan. Demikian Fuad Hassan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menjelaskan tentang hubungan antara pendidikan dan kebudayaan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan proses transformasi budaya. Pendidikan merupakan proses pewarisan budaya, dan sekaligus pengembangan budaya. Jika kebudayaan diartikan sebagai produk masyarakat, maka pendidikan adalah prosesnya. Jika kebudayaan sebagai“that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society” atau kebudayaan merupakan satu keseluruhan yang kompleks, termasuk di dalamnya pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan, seni, teknologi, dan banyak kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki manusia sebagai warga masyarakat, maka pendidikan adalah keseluruhan proses yang kompleks untuk menghasilkan semua itu. Proses apa yang membentuk pengetahuan dalam masyarakat? Proses itu adalah pendidikan. Proses apa yang membentuk kepercayaan dalam masyarakat? Sudah tentu masyarakat pula yang membangunnya. Demikian seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kemampuan lain dalam masyarakat. Semuanya merupakan produk dari satu proses yang dinamakan pendidikan. Singkat kata, “education enables people and societies to be what they can be” Pendidikan menjadikan manusia dan masyarakat mampu menghasilkan apa yang dapat mereka inginkan. Demikian Bill Richardson menjelaskan peran pendidikan dalam melahirkan kemampuan tertentu dalam masyarakat.
Untuk mewariskan budaya tersebut, proses pendidikan dilakukan melalui tiga proses yang saling kait mengait yang tidak terpisahkan, yaitu: (1) pembiasaan (habit formation), (2) pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan (3) peneladanan (role model). Dengan demikian pendidikan adalah pembudayaan. Dengan kata lain, pendidikan adalah proses pembentukan, pelestarian, dan pengembangan budaya dalam masyarakat. Pendidikan adalah proses yang dirancang dan dilaksanakan agar masyarakat dapat menghasilkan produk berupa budaya.
Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer), dan manusia yang hidup dalam tatanan masyarakatnya akan mewariskan kebudayaannya tersebut kepada keturunannya. Proses pendidikan tidak lain merupakan proses transformasi budaya, yakni proses untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda. Kebudayaan bukanlah suatu yang statis namun kebudayaan selalu berada dalam proses transformasi. Budaya yang tidak mengalami transformasi melalui proses pendidikan adalah budaya yang mati yang berarti pula suatu masyarakat yang mati.
Demikianlah interdepensi antara kebudayaan dan pendidikan. Kekeliruan yang telah terjadi sampai sekarang dengan memisahkan proses pendidikan dari proses kebudayaan perlu diperbaiki. Disamping memberikan pendidikan kebudayaan dalam arti terbatas seperti pendidikam seni, pendidkan bahasa dan sastra, pendidikan budi pekerti, juga yang lebih mendasar adalah kembali pada paradigma mengenai pendidikan nasional kita yaitu mendasarkan pendidikan nasional kepada kebudayaan nasional kita.
Nampaknya pendidikan di negeri ini masih dianggap sebagai barang mahal bagi sebagaian masyarakat meski isu tentang pendidikan gratis mulai merebak. Semoga saja itu bisa menjadi angin segar membangun strategi mengembangkan kebudayaan dalam masyarakat melalui pendidikan. Tentu, jika kita memang masih berharap menjadi orang indonesia yang berkepribadian indonesia dan berbudaya indonesia atau kita lebih suka menjadi orang lain yang tersilaukan oleh kebudayaan orang lain dan menjadi orang lain dinegeri sendiri. Semoga...

Kartini

0 komentar

Kartini

Selamat hari kartini bagi yang merayakan tentuya.
Semoga tulisan ini tidak telat, untuk ikut mengenang sisi lain surat – surat kartini. Awalnya saya tertarik dengan tulisan pada sebuah koran. Mungkin saja kalian tertarik membaca tulisan saya. Apalagi salah satu surat kartini yang isinya bernuansa penolakan secara halus terhadap “ajakan” untuk mengikuti kepercayaan si penulis surat: “yakinlah nyonya bahwa kami akan selalu memeluk agama kami yang sekarang”. Surat ini ditunjukan kepada Ny Van kohl, 21 juli 1902. Selain itu pada 12 oktober kartini juga menulis : “kami ingin mengabdi kepada tuhan bukan kepada orang” dan kepada Ny Abendanon lah surat ini ditujukan.
Sayangnya surat kepada sahabat yang memberikan jawaban tegas jarang di tampilkan. Paling baru membaca kali ini. Itupun belum mengerti maksudnya.
Sebetulnya surat – surat seperti di atas jarang kita temui sebab memang telah diseleksi sesuai kepentingan belanda pada waktu itu (kristenisasi dll) agar membentuk opini publik yang baik.
Bila sempat membaca surat kartini yang sudah di seleksi kita akan tahu bahwa sahabat kartini banyak yang mempengaruhi. Salah satunya mempengaruhi agar tidak menikah dengan bupati rembang
dengan iming – iming berupa beasiswa.
Tak perlu banyak kata lagi. Ibu kita kartini pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka.
Kartini memang teladan kita. Dia tidak hanya mengajari pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan mengajari kita bagaimana tetap teguh memegang prinsip ditengah politik strategis penjajah belanda. Namun kartini memiliki perjuangan lain yang tersembunyi, yang tak kalah beratnya, kita patut menghormati.

Krisis AIR Menanti

0 komentar

AIR MENIPIS BUMI MENANGIS

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(ar Ruum : 41)
Lagi –lagi kerusakan di dunia ini tiada berhenti menghampiri. Sayangnya justru kita lah penyebab kerusakan itu, betul.....?.
Ketika menulis ini sepertinya saya masih belum yakin kalo air yang ada didunia bisa habis. Lebih dari separuh permukaan bumi adalah air baik air laut sungai danau dan lainnya belum lagi didalam tanah juga ada air tanah.
Hampir semua mahkluk hidup memang sih membutuhkan air. Tapi kayaknya manusialah yang paling banyak menggunakan air. Semenjak mereka tahu akan kegunaan air sejak itu pula kebutuhan akan air semakin meningkat. Oh ya saya hampir lupa kalo air yang dimaksud itu air bersih yang dibutuhkan manusia termasuk saya yang tinggal di indonesia tepatnya di pulau Jawa.
Nyatanya pada tahun 1930 pulau jawa mampu memasok 4.700 meter kubik per kapita namun sekarang tinggal 1500 meter kubik per kapita per tahun maka bisa diperkirakan pada tahun 2020 akan terjadi krisis air dengan perhitungan potensi air akan berkurang hingga 1200 meter kubik per kapita per tahun. Dari jumlah tersebut hanya 35 persen yang layak pakai atau tinggal 400 meter kubik per kapita per tahun padahal standarnya 1100 meter kubik per kapita per tahun.
Ketidakseimbagan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia tapi di seluruh dunia banyak negara yang khawatir akan mengalami kekeringan, kehausan.
Pangkal masalah ini adalah buruknya sistem pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia. Di tambah kebiasaan boros kita dalam menggunakan air baik sektor pertanian, industri maupun kebutuhan lainnya. Hayo ngaku siapa yang suka boros air??
Kayaknya kedepan harus ada kebijakan pemerintah agar masyarakat kita tanggap dalam konservasi air bukan hanya membuat kebijakan air yang bisa menghasilkan uang melulu.
“Air mengalir sampai jauh” jadi teringat lagunya Gesang. Semoga lagu tentang “air” tidak tinggal lagunya saja sebab airnya kian hari menyusut oleh ulah kita iya tho?.
Masih nunggu untuk hemat air.........?
Sampai kapan? Jangan sampai kita mengeluarkan air mata nangis soalnya krisis air.
Tapi ...........
Lakukan penghematan ya! Mulai sekarang!

UAN 2

0 komentar

Dua jam lagi UAN akan ku hadapi. Akan kukerjakan 40 – 50 soal penentuan dengan sepenuh harapan kelulusan.
Sesulit apapun soal akan kukerjakan sepenuh kemampuan meski hanya 120 menit tapi harus cukup untuk itu semua. Dag dig dug ketika menunggu. Begitu pula semua temanku.
Detik terus berganti saat kutulis ini begitu pula menit terus berlalu. Pasti kemudian jam pun terlewati dan UAN pun harus kukerjakan.
Jangan takut!
JANGAN BERSEDIH! ALLAH Bersama kita. LA Tahzan!.
Tidakkah kau dengar dibalik kesusahan terdapat tersimpan kemudahan. Bahkan dua kemudahan. Percayalah engkau. Haruslah percaya sebab kelulusan adalah milik kita bersama. XII IPA


Saat belajar Matematika dan Bahasa Indonesia
05.05 Selasa 220408
Masjid Jami’at Taqwa



Kutulis lagi saat – saat itu setelah hampir genap satu tahun. Dengan pena sederhana berharap bisa memberi ibrah bagi semua. Khususnya bagi yang mendapatkan ujian. Agar mengerti ada kemudahan di balik kesulitan. Dan menemukan sebuah pelajaran berharga.

UAN

0 komentar

Hari ke-3 menjelang UAN. Detik demi detik terlampaui, menit demi menit terlewati. Jam demi jam berganti mengganti hari hingga hari ini.
Ketika ada awal mau tak mau harus ku jumpai akhir.
Tiga masa sekarang tinggal tiga hari lagi tak terbayang rasanya. Perjuangan terakhir harus aku lakukan. Meski dihari – hari menjelang terasa banyak kutemui rintangan, masalah – masalah kecil yang tak kuduga slama ini. Ya itulah ujian dimanapun tempatnya, kapanpun saatnya, jika saatnya, jika Allah Menghendaki maka pasti terjadi. UAN sudah didepan mata menyimpan kekahawatiran, ketakutan jika mendapat kegagalan sebuah ketidaklulusan. Hanya segenap doa yang harus kupuja serta seluruh usaha tanpa jeda atau koma jika mampu tanpa titik akhir.
Namun kulihat disana wajah – wajah perpisahan, wajah – wajah kesedihan menanti. Ya Allah jadikan ini perpisahan terindah. Biarkan waktu memisahkan segenap rasa ini, tapi jangan biarkan hati ini melupakan semua kenangan.
Itulah kenangan yang sempat tercatat sabtu 19 april 2008. Setahun hampir itu berlalu. Kemarin sempat aku bertanya kepada teman-temanku, ada kesamaan kisah tentang UAN. Ia tidak mengajarkan pembelajaran. Hanya berlatih menipu, menipu diri sendiri. Namun itulah wajah pendidikan negeriku. Sayangnya besok adik kelasku harus mengalami hal yang sama....
20 -24 April 2009
Penentuan terakhir. Tiga tahun yang harus dibayar dengan lima hari. Dengan segala kemampuan yang dimiliki serta segenap doa yang istiqomah di panjatkannya setidak-tidaknya keyakinan tentang lulus telah tertanam dihatiku, di hati mereka. Selamat menempuh ujian dari berbagai ujian kehidupan ini. Bismilah mulailah adikku di Mifda tercinta karena kelulusan adalah milik kalian.


Senin, 13 april 2009 09.05 WIB
Rumah kelima saat mengingat masa menjelang UAN

Wacana kedepan SMA Miftahul Huda

0 komentar

SMA Miftahul Huda Purwodadi adalah SMA Plus atau SMA TERPADU, yaitu paduan antara SMA Umum, SMK & MA. Di sekolah ini siswa di gembleng dengan beberapa pelajaran agama, dibekali beberapa ketrampilan. Insya Allah putra putri anda akan menjadi anak sholeh/ sholehah, berilmu dan punya ketrampilan sebagai bekal hidup.

Adalah sebuah pilihan tepat manakala memilih SMA MIftahul Huda sebagai pilihan untuk mendapatkan ilmu yang integral atau menyeluruh, baik agama maupun ilmu lain tentunya ketrampilan meliputi menjahit, komputer dan rencana terakhir perbaikan HP.
di jaman Global yang membutuhkan persaingan di dalam menjalani kehidupan ini agar tidak di katakan orang "ketinggalan zaman". selain itu komputerisasi di berbagai tempat tentunya menjadi SMA Miftahul Huda memaksa diri untuk berubah secara signifikan.
perubahan itu seharusnya tentu akan membawa dampak yang begitu baik untuk menarik minat siswa baru. fakta yang terjadi adalah sebaliknya.jumlah siswa bahkan juga tidak bisa memenuhi kuota yang disediaka.
ada apakah di balik itu semua??.
minat siswa untuk masuk ke sekolah negeri yang sangat besar sepertinya ikut menjadi sebab terjadinya hal itu. selain itu munculnya sekolahan baru semisal SMKN 2 PWD juga ikut andil dalam menyebabkan berkurangnya murid yang di dapat.jika hal itu dibiarkan terus berlanjut tentu pada akhirnya akan menyebabkan bahaya besar bagi kelangsungan. lalu seperti apakah mifda ke depan.
visi sekolah ke depan nampaknya perlu dipertanyakan. jika memang mencetak murid yangs iap kerja maka alangkah baiknya SMA Miftahul huda menjadi sebuah Sekolah kejuruan. nampaknya ide ini pernah di lontarkan namun mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. dari segi potensi sebagai sekolah yang berada di bawah naungan yayasan Islam mungkin ke depan mifda bisa menjadi sebuah SMA IT (sekolah Menengah Atas Islam Terpadu) kita tahu minat masyarakat akan sekolah islam begitu besar khususnya yang berlabel (IT) dan mungkin ke depan akan menjadi yang pertama di Purwodadi. beberapa hal diatas adalah beberapa wacana. tentu sebuah sekolahan dimanapun tempatnya haruslah mempunyai visi dan misi ke depan dengan jelas. sehingga penambahan fasilitas,dan sebagainya haruslah benar-benar ditujukan untuk menumbuhkan potensi para siswanya dan jangan sampai berorientasi pada Bisnis semata. jika dari pihak guru selalu berorientasi uang maka akan lahir murid-murid yang sama. dan jika mereka menjadi bagian masyarakat jangan salahkan mereka mencari uang dengan segala cara.
semoga di hari ulang tahun pada 31 maret nanti menjadi momentum yang tepat untuk membangun visi dan misi kedepan secara lebih baik. bukan hanya mencari murid sebanyak banyaknya namun lebih baik sedikit tapi berkualitas.
semoga bermanfaat.

Perempuan Berkalung Sorban

0 komentar

perempuan berkalung sorban. wanita yang terkekang syariat islam.
novel yang ditulis oleh Abidah el Khalieqy dan kemudian difilmkan. menurutku lebih menjadikan wanita lebih terkekang dengan syariat islam. padahal gak mungkin syariat bikin orang susah. tapi namanya juga sastra kadang juga seringnya melawan arus kebenaran. kalo lurus-lurus saja nggak seru nanti filmnya.
Kisah berawal dari sebuah pesantren Al-Huda di Jawa Timur milik Kyai Hanan (Joshua Pandelaky) pada tahun 80-an. Seorang gadis berumur sepuluh tahun Annisa (Nasya Abigail) yang menjadi anak ke tiga dari sang Kyai berbeda dengan gadis kecil lainnya di daerah tempat pesantren itu. Ketika kedua saudara laki-lakinya belajar menunggangi kuda, Annisa kecil ingin juga belajar. Namun, dia dilarang oleh kedua orang tuanya, karena dia seorang perempuan.

Annisa merasa tak nyaman dengan lingkungan pesantren dan keluarganya karena selalu ‘menyampingkan’ statusnya sebagai perempuan dengan alasan syariat Islam. Untungnya ada salah satu orang yang mengerti kegelisahan Annisa yang keras kepala dan mengajari Annisa naik kuda, dia adalah Khudori (Oka Antara) seorang lelaki cerdas dengan pikiran terbuka. Namun, perlindungan Khudori tak berlangsung lama karena dia harus pergi ke Al-Azhar di Kairo untuk melanjutkan kuliahnya dan meninggalkan Annisa sendirian.

Annisa (Revalina S Temat) telah remaja dan memutuskan untuk melamar beasiswa di sebuah Universitas Islam di Yogjakarta. Namun, Annisa mendapat garis lain dalam hidupnya yaitu masuk ke dunia pernikahan. Annisa dijodohkan dengan Samsudin (Reza Rahadian) anak seorang Kyai yang membantu pesantren Al-Huda. Dunia pernikahan dirasa Annisa buruk karena perbuatan kasar dan tekanan yang dilakukan sang suami. Tak hanya perlakuan kasar yang didapatkan, Annisa juga dipoligami. Annisa tak bisa berbuat apa-apa karena syariat Islam yang selalu ada dalam dirinya bahwa perempuan harus mengikuti apa yang dilakukan suami dan menurut apa kata suami.

Annisa selalu merasa kalau perempuan menjadi warga negara kelas dua, ditindas hak-haknya dan dilupakan suaranya. Namun, semuanya berubah ketika Khudori datang kembali ke Al-Huda dan bertemu dengan Annisa. Benih-benih cinta yang dirasakan sejak kecil masih ada dalam diri Annisa dan Khudori. Mereka pun disangka telah melakukan hal yang tak diperbolehkan sebagai seorang lelaki dan istri orang. Annisa akhirnya diceraikan sang suami dan dia memutuskan untuk pergi ke Yogjakarta.

Di Yogjakarta Annisa mulai memperlihatkan bakatnya dengan menulis. Dia bekerja di sebuah kantor konsultan dan menjadi konsultan handal. Annisa pun menikah dengan Khudori dan kembali ke Al-Huda dengan membawa buku-buku karyanya. Annisa ingin santri-santri yang ada di sana belajar memperjuangkan haknya sebagai perempuan dengan banyak membaca dan menulis. Namun, di pesantren itu terdapat larangan membaca buku yang berbau dunia luar. Annisa memperjuangkannya dengan membuat perpustakaan di Al-Huda.

Di film ini Akting Revalina S. Temat cukup memukau. Meskipun baru berusia 23 tahun dia cukup ciamik berakting menjadi seorang ibu hamil. Film yang diadaptasi dari novel karya Abidah Al Khalieqy berkisar tentang perempuan dan perjuangannya meraih eksistensi. Sang sutradara, Hanung pun siap mendapatkan kontroversi dengan film ini dengan membuat film yang berisi tentang Islam dan syariatnya.
mungkin sebentar lagi bakal banyak kontroversi. moga aja membuat masyarakat menjadi lebih cerdas dalam menilai syariat. secara tidak langsung adalah pembelajaran Syariat Islam kepada publik. semoga saja ada hikmah dibalik semua itu. AMIN......!

Aksi LDK untuk Palestina

0 komentar

Save Palestina
Edisi : Kamis, 08 Januari 2009 , Hal.XII
LDK STAIN Solo peduli Palestina

Solo (Espos) Lembaga Dakwah Kampus STAIN Solo, Selasa (6/1), mengadakan aksi penggalangan dana untuk membantu nasib saudara-saudara sesama muslim yang ada di Palestina.

LDK merasa peduli dengan saudaranya yang sekarang sedang dijajah oleh zionis Israel. Menurut Kabid Humas LDK STAIN Solo, Anif Rohman Juaini, dalam rilis yang diterima Espos, penggalangan dana ini dilaksanakan di dalam kampus STAIN Solo yaitu dengan memasuki ruang-ruang kelas yang sedang aktif digunakan untuk kuliah dan ruang-ruang kantor dosen. Aksi tersebut dimulai pukul 10.00 WIB- 11.30 WIB. Sampai dini hari dana yang terkumpul sudah mencapai Rp 1,5 juta. “Kegiatan ini akan berlangsung selama sepekan dan hasilnya akan disalurkan melalui Puskomda Soloraya yang berpusat di UNS yang kemudian akan disalurkan ke Puskomnas yang berpusat di Unair Surabaya. Selanjutnya pihak dari Puskomnas akan langsung menyalurkan ke Palestina,” jelasnya. - Oleh : Awi/*

Selamat Tahun Baru

0 komentar

Tahun 2009 sebuah keniscayaan
Derap tahun ini berakhir,berganti langkah-langkah baru sebuah keniscayaan tahun 2009. ada sebuah harapan,langkah,arah,rintangan dalam kehidupan.
jalan itu masih panjang menunggu untuk terjejaki dengan sebuah semangat mewujudkan asa-asa.
Terpikirkan olehku... kata-kata itu.
orang yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin adalah orang yang celaka
orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi
orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin ialah orang yang beruntung.
sepertinya semangat menjejaki tahun ini dengan sebuah semangat perbaikan. hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Tahun ini harus lebih baik daripada tahun kemarin.
selamat tahun baru 2009 sebuah keniscayaan haruslah senantiasa mengiringi semangat menjejaki detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, menuju sebuah cita-cita.

KETIKA SMS DIHISAB

0 komentar

Memang ada dalilnya tho? Kok sms pake dihisab segala. Hadistnya mana?
Jangan tanyakan tentang dalilnya, jangan tanyakan tentang hadistnya tapi ini faktanya.
Nggak bisa dipungkiri HP bukan barang mahal lagi dan umum digunakan remaja. Anak SD pun sudah ada dibawai hp sama ortunya apalagi kita mahasiswa seperti dah jadi kebutuhan. Mungkin Kalo menggunakan hp biasa-biasa saja pastinya no problem. tapi kalo HP sampai mengalahakan kebudayaan membeli buku. Sungguh ter…la…lu…
Menurut survei yang dilakukan antara Bank Indonesia (BI) Jogja dengan tim peneliti Fakultas Ekonomi UPN Veteran Jogja seperti yang dilansir jawa pos edisi sabtu 23 November 2008 mendapatkan hasil yang cukup mencengangkan salah satu poin yang menarik adalah pengeluaran untuk pulsa lebih besar daripada membeli buku. Survei yang dilakukan secara acak itu menyatakan rata-rata mahasiswa mengeluarkan anggaran pulsa Rp 90.200 dan Rp 39.750 per bulan atau 7 persen untuk pulsa dan 3 persen untuk untuk buku. Terlepas dari survey yang dilakukan itu sudah benar-benar valid atau belum sebab hanya perwakilan dari berbagai perguruan tinggi dijogja saja tapi, seharusnya bisa menjadi bahan evalausi bagi diri kita sendiri. Kita sebagai mahasiswa ternyata telah membudayakan lebih banyak membeli pulsa daripada membeli buku, emang pulsa itu kita gunakan untuk apa? Bukankah kita mahasiswa yang seharusnya Agent Of Change, lalu mau ngrubah darimana kalo beli buku saja masih kalah dengan membeli pulsa sepertinya saya setuju dengan pak Munadi yang mulai mewajibkan mahasiswanya untuk membeli buku.
Kenapa kita bisa menghabiskan banyak pulsa pasti jawabannya berbeda bisa karena memang digunakan untuk hal yang bermanfaat,semisal mengirim nasehat,tausiyah,ataupun lainya. Tapi kalo sampai mengabiskan banyak pulsa tanpa nyadar itu perlu disadarkan. Seperti seorang teman yang ia tidak menyadari kenapa bisa menghabiskan banyak pulsa, katanya sih cuma membalas sms teman-teman tapi tau-tau pulsa 50.000 ludes des des belum sampai satu bulan. Mungkin ada juga yang ketipu sama program dari operator dengan mengirim 10 sms kemudian dapat bonus 100 sms secara tidak langsung setiap hari ia diharuskan menghabiskan pulsa senilai 10 zmz , padahal sebenarnya ia butuh mengirimkan sekitar 5 sms tapi gara-gara program itujadinya ngirim lagi 5 dan dapet deh bonusannya, karena saking banyak bonusan maka kudu banyak waktu untuk menghabiskan bonusan sebanyak itu. Itupun kalo waktu masih ada tapi kalo sudah kelewat jamnya, hangus deh bonusannya, jadi jangan kaget banyak zmz masuk yang isinya sekedar mau ngabisin bonusan saja alias mubazir. Kasihan… dah mubazir boros lagi hati hati sesunggunya pemboros adalah saudaranya syaitan.
Tulisan ini bukan mau nglarang yang pake HP sekedar ngingetin sisi negative HP dari mulai pemborosan tanpa sadar yang ngalahin kebiasaan membeli buku, dan lainya kamu bisa pikir sendiri deh saya yakin kamu tau. Ibarat pisau bermata dua itulah sebuah teknologi. Ia tidak hanya memberi manfaat tapi memberi mudharat. Semua kembali kepada kita. Sudah saatnya kebiasaan yang gak bener dalam menggunakan HP terutama dalam membeli pulsa yang berlebih-lebihan harus dirubah. Jangan kalah dengan membeli buku yang manfaat buat diri kita atau mungkin menunjang mata kuliah tentunya buku itu dibaca juga. Jangan cuma dibeli saja tapi males baca. Nggak kasihan sama orang tua yang sudah cari uang susah-susah ternyata kita habiskan hanya untuk membeli pulsa. Apalagi jika diakhirat nanti setiap penggunaan pulsa kita entah itu sms ataupun lainya akan dihisab oleh Allah.
So, rubah dari sekarang mumpung belum terlambat.
Diii*

Tarbiyah Menyejarah

0 komentar


Hari itu, Ibrahim dan Isma’il menyelesaikan tugas peradaban mereka;membina dan meninggikan dasar-dasar Baitullah. Kemudian berdo’a, do’a yang sederhana meminta agar amal-amalnya diterima. Do,a itu do,a yang tawadhu’. Memohon petunjuk untuk beribadah dalam ridhaNya. Doa itu, doa yang menyejarah. Memohon kesinambungan peradaban untuk suatu ummat yang terus membaca ayat-ayatNya, mempelajari Kitab dan hikmah, serta mensucikan dirinya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah 129)

Muhammad, Shallallahu A’laihi wa Sallam adalah jawaban do’a nabi Ibrahim dan Ismail. Dialah yang mengajari kaum yang buta huruf untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, mensucikan diri mereka dari dosa-dosa dan perilaku jahili, serta mempelajari kitab Allah dan peri tauladan manusia yang menjadi kemuliaan bagi mereka.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”(Al Jumuah:2).

Perhatikan kata yang saya tebalkan dimasing-masing ayat. Inilah tiga langkah yang dilakukan Rasulullah dalam merevolusi masyarakat jahiliah, masyarakat yang berada dalam kesesatam nyata, menjadi guru dunia. Pertama, tilawah, berarti membacakan ayat-ayat Allah. Kedua, tazkiyah, artinya mensucikan. Dan ketiga, ta’lim, artinya mengajarkan. Secara ringkas kita menyebut tiga hal dari doa Ibrahim, ijabah Allah, dan langkah-langkah pembinaan Rasulullah itu dengan satu kata ringkas: tarbiyah.

Syaikhul Azhar ‘Ali ‘Abdul Halim Mahmud menyebut tarbiyah sebagai cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, secara langsung maupun tidak, untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik. Proses itu, menurutnya harus menyentuh seluruh aspek kehidupannya.

Saat itu, cuaca peradaban sedang suram diseluruh dunia Islam. Mentari benar-benar telah terbenam setelah kabut yang menggulungnya berabad lamanya sempurna menjadi malam dengan senja yang bertanduk syaitan. Tetapi empat tahun setelah 1924, tahun yang dikenang Taqyudin An Nabhani dan pergerakan Hizbut Tahrir sebagai tahun runtuhnya Khilafah, di Mesir, purnama itu mulai mengintip malu dari balik awan, lelaki itu Hasan Al Banna, membuat sebuah kepeutusan menyejarah di usianya yang keduapuluh dua. Al Ikhwan Al Muslimun. Pergerakan yang core-nya ia desain menurut doa Ibarahim, sesuai ijabah Illahi,dan langkah-langkah Nabawi. Tarbiyah

Tarbiyah memiliki sedikitnya tiga makna. Katakanlah ia berakar dari kata Rabaa, Yarbuu. Tumbuh. Tarbiyah menumbuhkan seseorang dari kekanakan ruh, kekanakan akal, dan kekanakan jasad menuju kematangan dan kedewasaan masing-masingnya untuk memetakan diri, menyikapi masalah-masalah, dan mengemban tugas-tugas. Tarbiyah adalah sebuah Improvement.

Atau Rabiya, Yurbii. Berkembang. Tarbiyah mengembangkan manusia muslim dalam kemampuan-kemampuan yang dibutuhkannya menjalani kehidupan. Ia dalam tugasnya sebagai ‘Abdullah yang beribadah kepada Allah, dan sebagai khalifah yang akan mengelola bumi dan seisinya di-train untuk memiliki kompetensi yangdikembangkan dari potensi yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Setelah mengenali potensinya, ia mengajaknya mengembangkannya. Tarbiyah adalah Development.

Atau Rabbaa, Yarubbu. Memberdayakan. Ia yang telah tumbuh dan berkembang harus diarahkan untuk berdayaguna. Islam memanggil manusia-manusia muslim untuk membuktikan keunggulannya. Islam menghendaki agar sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat,paling berdayaguna dan kontribusinya bagi dunia. Tarbiyah adalah Empowerment

Dalam kerangka kerja peradaban Anis Matta, tarbiyah adalah Afiliasi,Partisipasi, dan kontribusi jarak antara Islam dengan manusia muslim sedemikian jauh, hingga Muhammad Abduh harus tertekuk dengan ungkapan terkenalnya, “Al Islaamu mahjubun bil muslimiin, keagungan Islam telah terhijab oleh kekerdilan pemeluknya”. Maka dibutuhkan sebuah rekontruksi terhadap manusia muslim untuk menjadi terjemahan hidup dari islam yang tertatah dalam Al Quran dan As Sunnah. Islam kata beliau, dengan mudah memenangkan pertarungan dalam tataran ideologi dan pemikiran. Namun medan pertarungan sesungguhnya justru terletah dibelantara politik, dipanggung budaya, ditengah desingan mesiu, dan diseluruh pojok bumi. Itulah medan manusia. Kebenaran Islam layaknya sebilah pedang tajam terhunus yang menanti tangan perkasa sang pahlawan.

Langkah pertama , afiliasi, mengisyaratkan agar dakwah mengembalikan keberpihakan ummat kepada agamanya. Pemahaman terwaris itu harus diubah menjadi pemahaman yang diperoleh dalam keterbimbingan. Keislaman itu harus memiliki akar yang kuat dan tidak mudah tercabut dari hati. Padanya harus ada kerja tarbiyah. Membacakan ayat Allah,mensucikan hati, dan mengajarkan apa-apa yang akan menjawab pertanyaan dan kebutuhan mereka.

Langkah kedua, partisipasi, adalah kerja-kerja untuk melepas individu muslim yang kokoh afiliasinya terhadap Islam ke tengah masyarakat. Ia yang shalih, akan menjadi muslih, mendistribusikan keshalihannya ke tengah masyarakat. Ia menjadi bagian, sekaligus inti keras yang akan menguatkan masyarakat. Padanya ada kerja-kerja tarbiyah. Menumbuhkan,mengembangkan, memberdayakan.

Langkah ketiga, kontribusi, adalah memastikan agar tiap individu muslim yang berpartisipasi itu mencapai taraf optimal dan memberikan kontribusi bagi Islam. Salah satu sumber kekayaan masyarakat Islam adalah keunikan individual dari masing-masing manusia muslim, yang apabila potensi-potensi itu tertuang secara penuh dan membentuk muara islam yang sinergis, sebuah gelombang peradaban yang dahsyat akan segera menggemuruh membelah sejarah. Padanya ada kerja tarbiyah menyentuh seluruh aspek kehidupan. Ruhnya,akalnya, dan jasadnya.

Akan ada waktu kiranya, kata beliau, dimana ummat manusia akan sulit membedakan antara pesona kebenaran islam, dengan kepribadian muslim. Saya percaya, tentu dengan satu kata awal yang menyejarah itu. Tarbiyah.

Diambil dari “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” karya Salim A Fillah dengan beberapa perubahan.